GORONTALO — Pengelolaan data yang akurat, terdokumentasi, dan diperbarui secara berkala menjadi fondasi utama dalam membangun budaya mutu di perguruan tinggi. Pesan itu mengemuka dalam Workshop Peningkatan Penjaminan Mutu Institusi yang digelar di Aula Lantai 3 Universitas Ichsan Gorontalo, Sabtu (25/7/2026).
Workshop menghadirkan narasumber Dr. Syamsu Alam, SE., M.Si., Ak., CA., ACPA, yang memberikan penguatan kepada pimpinan perguruan tinggi, pimpinan program studi, serta tim penjaminan mutu mengenai strategi penyusunan dokumen akreditasi berbasis data.
Dalam pemaparannya, Syamsu Alam menegaskan bahwa Dokumen Kinerja Program Studi (DKPS) harus menjadi perhatian utama setiap program studi. Menurut dia, kualitas sebuah perguruan tinggi tercermin dari data yang dimiliki, bukan semata-mata dari narasi yang disusun saat menghadapi akreditasi.
“Kata kunci dalam penjaminan mutu adalah data. Jangan menunggu mendekati akreditasi baru mulai mengumpulkan dokumen. Setiap kegiatan, sekecil apa pun, harus didokumentasikan karena itulah yang menjadi bukti kinerja institusi,” kata Syamsu.
Ia mengungkapkan, salah satu tantangan yang masih dihadapi banyak perguruan tinggi adalah minimnya data yang terdokumentasi dengan baik. Padahal, seluruh aktivitas tridarma perguruan tinggi maupun tata kelola organisasi seharusnya memiliki rekam jejak yang dapat diverifikasi.
Menurut Syamsu, penyusunan DKPS juga perlu dilakukan secara berkala, bahkan idealnya diperbarui paling lambat setiap satu bulan. Dengan demikian, data yang tersedia selalu mutakhir dan memudahkan institusi dalam proses evaluasi maupun akreditasi.
“Data harus mampu bercerita. Jangan membangun cerita tanpa data. Biarkan data yang menjelaskan capaian, kinerja, dan perkembangan institusi secara objektif,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Ichsan Gorontalo, Dr. Juriko Abdussamad, mengatakan bahwa penguatan budaya mutu merupakan salah satu agenda strategis universitas dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan daya saing perguruan tinggi.
“Peningkatan mutu harus menjadi budaya kerja seluruh sivitas akademika. Budaya itu hanya dapat terwujud apabila setiap unit memiliki komitmen untuk mengelola data secara lengkap, akurat, dan berkelanjutan. Data bukan hanya kebutuhan akreditasi, tetapi menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan,” ujar Juriko.
Ia berharap workshop tersebut mampu membangun kesamaan persepsi di seluruh unit kerja mengenai pentingnya pengelolaan data sebagai bagian dari implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).
Melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penerapan tata kelola berbasis data, Universitas Ichsan Gorontalo menargetkan terciptanya budaya mutu yang terukur, berkelanjutan, serta mendukung peningkatan kualitas akademik dan kelembagaan di masa mendatang.
